Assalamu'alaikum, Wr, Wb
Greetings,
Sometimes i don't get it! your feelings get all muddled up, your focus is everywhere, your drawn away from what's in the now and your always confused. Logic and common sense don't come into play when your so caught up with your emotion about somebody. You hang out, talk constantly, tell each other stories, secrets and have deep and meaningful conservations with a particular person. It doesn't have to be a girl or boy, girlfriend or boyfriend, best friend or not so best friend your going to develop emotions about that person. Even if It's either genuine fun and enjoyment of friendship or pure love and happiness like I want to marry that person, you get caught up in your emotions!
I don't get it, for that moment when your emotions take over and all these symptoms of meddling with your life, what can you do about it? its only natural to feel that way, obviously there are chemicals in our body that contribute to these feelings or emotions but I feel its beyond that. Not something magical, but something real. Real as we might not see to the naked eye or even see it at all if its in our bodies, hidden and encapsulated. Blah that didn't make any sense.
Furthermore, when you start to fade away and stop hanging with that person. Then you only wish you could talk more and see each other more, when you know it can't happen because your 'too busy'. Then you start to crave for their attention and the constant updating seem to be all in the past. Like they don't care. What happens to your emotions now? I believe those symptoms go into hyper-drive.
Enough of that my point is.......
Well I found love. in Christ i did and my relationship with him. He's real, his death was real, his resurrection was real, and his return will be real. I know this event should be affecting me, its impact should feel so real and sometimes I doubt but i know i shouldn't. Maybe i genuinely don't get it, even though its so plainly explained, am I rejecting God? There isn't anything I can do physically or mentally to make sure that I will go to heaven with God but believe.
I believe in His love, a simple emotion that is real that I can give and receive. I hope i can firstly receive his love fully in my life so that I can give the love to others.
Until next time
Keep blogging or get into blogging
in Him, we live
Ibnu Abbas
Keep smiling =(
Sometimes i don't get it! your feelings get all muddled up, your focus is everywhere, your drawn away from what's in the now and your always confused. Logic and common sense don't come into play when your so caught up with your emotion about somebody. You hang out, talk constantly, tell each other stories, secrets and have deep and meaningful conservations with a particular person. It doesn't have to be a girl or boy, girlfriend or boyfriend, best friend or not so best friend your going to develop emotions about that person. Even if It's either genuine fun and enjoyment of friendship or pure love and happiness like I want to marry that person, you get caught up in your emotions!
I don't get it, for that moment when your emotions take over and all these symptoms of meddling with your life, what can you do about it? its only natural to feel that way, obviously there are chemicals in our body that contribute to these feelings or emotions but I feel its beyond that. Not something magical, but something real. Real as we might not see to the naked eye or even see it at all if its in our bodies, hidden and encapsulated. Blah that didn't make any sense.
Furthermore, when you start to fade away and stop hanging with that person. Then you only wish you could talk more and see each other more, when you know it can't happen because your 'too busy'. Then you start to crave for their attention and the constant updating seem to be all in the past. Like they don't care. What happens to your emotions now? I believe those symptoms go into hyper-drive.
Enough of that my point is.......
Well I found love. in Christ i did and my relationship with him. He's real, his death was real, his resurrection was real, and his return will be real. I know this event should be affecting me, its impact should feel so real and sometimes I doubt but i know i shouldn't. Maybe i genuinely don't get it, even though its so plainly explained, am I rejecting God? There isn't anything I can do physically or mentally to make sure that I will go to heaven with God but believe.
I believe in His love, a simple emotion that is real that I can give and receive. I hope i can firstly receive his love fully in my life so that I can give the love to others.
Until next time
Keep blogging or get into blogging
in Him, we live
Ibnu Abbas
Keep smiling =(
Selasa, 27 April 2010
Takahashi, 5 Menit Menuju ke Surga
Kuringgu… kuringgu …. kuringgu!!! (kring …kring …kring..). Suara telepon rumah Muhammad berbunyi nyaring.
Muhammad: Mosi mosi? (Hallo?)
Takahashi: Mosi mosi, Muhammad san imasuka ? (Apakah ada Muhammad?)
Muhammad: Haik, watashi ha Muhammad des. (Iya saya).
Takahashi: Watashi ha isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka? (Saya ingin belajar agama Islam, dapatkah Anda mengajarkan kepada saya?)
Muhammad: Hai, mochiron. (ya, sudah tentu.)
Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam.
Setelah beberapa bulan bersyahadat, Takahashi kian akrab dengan keluarga Muhammad. Dia mulai menghindari makanan haram menurut hukum Islam.
Memilih dengan hati-hati dan baik, mana yang boleh di makan dan mana yang tidak boleh dimakan merupakan kelebihannya. Terkadang tidak sedikit, keluarga Muhammad pun mendapatkan informasi makanan-makanan yang halal dan haram dari Takahashi.
“Pizza wo tabenaide kudasai. cheese ni ra-do wo mazeterukara.. (Jangan makan pizza walau pun itu adalah cheese, karena di dalamnya ada lard, lemak babi)”, nasihatnya di suatu hari. Takahashi mengetahui informasi semacam ini karena memang kebiasaan tidak membeli pizza, atau makanan produk warung di Jepang memang sudah terpelihara sebelumnya di keluarga Muhammad.
Toko kecil makanan halal milik keluarga Muhammad, menjadi tumpuan Takahashi dalam mendapatkan daging halal. Suatu ketika Takahashi ingin makan daging ayam kesukaannya, tapi dia ngeri kalau melihat daging ayam bulat (whole) mentah yang ada di plastik, dan tidak berani untuk memotongnya. Dengan senang hati, Muhammad memotong ayam itu untuk Takahashi. Dia potong bagian pahanya, sayapnya, dan badannya menjadi beberapa bagian.
Setiap pekan, Takahashi terkadang memesan sosis halal untuk lauk, bekal makan siang di kantor. Setiap pagi ibunya selalu menyediakan menu khusus (baca: halal) untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja. Sebagai ukuran muallaf Jepang yang dibesarkan di negeri Sakura, luar biasa kehati-hatian Takahashi dalam memilih makanan yang halal dan baik. Terkadang Muhammad harus belajar dari Takahashi tentang keimanan yang dia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Pernah dalam suatu percakapan tentang suasana kerja, Takahashi menggambarkan bagaimana terkadang sulitnya menjauhi budaya minuman sake di lingkungan tempat kerjanya. Di Jepang, suasana keakraban hubungan antara atasan dan bawahan atau teman bekerja memang ditunjukkan dengan saling memberikan minuman sake ke gelas masing-masing.
Dalam kondisi hidup ber-Islam yang sulit, Takahashi ternyata terus melakukan dakwah kepada ibunya. Beberapa bulan kemudian akhirnya ibunya pun menjadi muallaf dengan nama Qonita, nama pilihan Takahashi sendiri buat ibu yang dia cintainya. Sampai saat ini, bagaimana dia mendapatkan nama itu, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Takahashi.
Beberapa bulan berlalu, pertemuan kecil-kecilan berlangsung …terlontar dari mulutnya suatu kalimat.
“Watashi ha kekkon simasu (Saya mau menikah)….”, ujarnya.
Dengan proses yang panjang, akhirnya dia mendapatkan jodohnya, wanita Jepang yang cantik, yang dia Islamkan sebelumnya. Setahun kemudian, suatu hari Takahashi datang ke rumah Muhammad dengan istrinya yang berkerudung, ikut serta juga buah hati mereka yang telah hadir di dunia ini.
Pada suatu hari, iseng-iseng Muhammad bertanya kepada Takahashi, “Apa yang menyebabkan Takahashi lebih tertarik dengan Islam?”
“Sebenarnya saya belajar juga Kristen, Budha dan Todoku (Agama moral) selain Islam,” Takahashi menjelaskan.
“Masih ingat dengan telepon kita dulu? Waktu pertama kali aku telepon ke Muhammad beberapa bulan dulu”, sambungnya.
“Iya ingat sekali”, jawab Muhammad.
“Kita waktu itu membuat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat bukan?”, tanya Takahashi.
“Iya benar sekali”, sambung Muhammad lagi sambil mengingat-ingat kejadian saat itu.
“Saya sungguh ingin mantap dengan Islam, karena Muhammad datang 5 menit lebih dulu dari pada waktu yang kita janjikan, dan Muhammad datang terlebih dahulu dari pada aku. Muhammad pun menungguku waktu itu”, jawab Takahashi beruntun.
“Karena itu aku yakin, aku akan bersama dengan orang-orang yang akan memberikan kebaikan”, sambungnya lagi.
Jawaban Takahashi membuat Muhammad tertegun, Astaghfirullah sudah berapa kali menit-menitku terbuang percuma, gumam Muhammad.
Begitu besar makna waktu 5 menit saat itu untuk sebuah hidayah dari Allah SWT. Subhanallah, 5 menit selalu kita lalui dengan hal yang sama, akan tetapi 5 menit waktu itu sungguh sangat berharga sekali bagi Takahashi.
Bagaimana dengan 5 menit yang terlewat barusan, milik Anda?
Muhammad: Mosi mosi? (Hallo?)
Takahashi: Mosi mosi, Muhammad san imasuka ? (Apakah ada Muhammad?)
Muhammad: Haik, watashi ha Muhammad des. (Iya saya).
Takahashi: Watashi ha isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka? (Saya ingin belajar agama Islam, dapatkah Anda mengajarkan kepada saya?)
Muhammad: Hai, mochiron. (ya, sudah tentu.)
Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam.
Setelah beberapa bulan bersyahadat, Takahashi kian akrab dengan keluarga Muhammad. Dia mulai menghindari makanan haram menurut hukum Islam.
Memilih dengan hati-hati dan baik, mana yang boleh di makan dan mana yang tidak boleh dimakan merupakan kelebihannya. Terkadang tidak sedikit, keluarga Muhammad pun mendapatkan informasi makanan-makanan yang halal dan haram dari Takahashi.
“Pizza wo tabenaide kudasai. cheese ni ra-do wo mazeterukara.. (Jangan makan pizza walau pun itu adalah cheese, karena di dalamnya ada lard, lemak babi)”, nasihatnya di suatu hari. Takahashi mengetahui informasi semacam ini karena memang kebiasaan tidak membeli pizza, atau makanan produk warung di Jepang memang sudah terpelihara sebelumnya di keluarga Muhammad.
Toko kecil makanan halal milik keluarga Muhammad, menjadi tumpuan Takahashi dalam mendapatkan daging halal. Suatu ketika Takahashi ingin makan daging ayam kesukaannya, tapi dia ngeri kalau melihat daging ayam bulat (whole) mentah yang ada di plastik, dan tidak berani untuk memotongnya. Dengan senang hati, Muhammad memotong ayam itu untuk Takahashi. Dia potong bagian pahanya, sayapnya, dan badannya menjadi beberapa bagian.
Setiap pekan, Takahashi terkadang memesan sosis halal untuk lauk, bekal makan siang di kantor. Setiap pagi ibunya selalu menyediakan menu khusus (baca: halal) untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja. Sebagai ukuran muallaf Jepang yang dibesarkan di negeri Sakura, luar biasa kehati-hatian Takahashi dalam memilih makanan yang halal dan baik. Terkadang Muhammad harus belajar dari Takahashi tentang keimanan yang dia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Pernah dalam suatu percakapan tentang suasana kerja, Takahashi menggambarkan bagaimana terkadang sulitnya menjauhi budaya minuman sake di lingkungan tempat kerjanya. Di Jepang, suasana keakraban hubungan antara atasan dan bawahan atau teman bekerja memang ditunjukkan dengan saling memberikan minuman sake ke gelas masing-masing.
Dalam kondisi hidup ber-Islam yang sulit, Takahashi ternyata terus melakukan dakwah kepada ibunya. Beberapa bulan kemudian akhirnya ibunya pun menjadi muallaf dengan nama Qonita, nama pilihan Takahashi sendiri buat ibu yang dia cintainya. Sampai saat ini, bagaimana dia mendapatkan nama itu, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Takahashi.
Beberapa bulan berlalu, pertemuan kecil-kecilan berlangsung …terlontar dari mulutnya suatu kalimat.
“Watashi ha kekkon simasu (Saya mau menikah)….”, ujarnya.
Dengan proses yang panjang, akhirnya dia mendapatkan jodohnya, wanita Jepang yang cantik, yang dia Islamkan sebelumnya. Setahun kemudian, suatu hari Takahashi datang ke rumah Muhammad dengan istrinya yang berkerudung, ikut serta juga buah hati mereka yang telah hadir di dunia ini.
Pada suatu hari, iseng-iseng Muhammad bertanya kepada Takahashi, “Apa yang menyebabkan Takahashi lebih tertarik dengan Islam?”
“Sebenarnya saya belajar juga Kristen, Budha dan Todoku (Agama moral) selain Islam,” Takahashi menjelaskan.
“Masih ingat dengan telepon kita dulu? Waktu pertama kali aku telepon ke Muhammad beberapa bulan dulu”, sambungnya.
“Iya ingat sekali”, jawab Muhammad.
“Kita waktu itu membuat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat bukan?”, tanya Takahashi.
“Iya benar sekali”, sambung Muhammad lagi sambil mengingat-ingat kejadian saat itu.
“Saya sungguh ingin mantap dengan Islam, karena Muhammad datang 5 menit lebih dulu dari pada waktu yang kita janjikan, dan Muhammad datang terlebih dahulu dari pada aku. Muhammad pun menungguku waktu itu”, jawab Takahashi beruntun.
“Karena itu aku yakin, aku akan bersama dengan orang-orang yang akan memberikan kebaikan”, sambungnya lagi.
Jawaban Takahashi membuat Muhammad tertegun, Astaghfirullah sudah berapa kali menit-menitku terbuang percuma, gumam Muhammad.
Begitu besar makna waktu 5 menit saat itu untuk sebuah hidayah dari Allah SWT. Subhanallah, 5 menit selalu kita lalui dengan hal yang sama, akan tetapi 5 menit waktu itu sungguh sangat berharga sekali bagi Takahashi.
Bagaimana dengan 5 menit yang terlewat barusan, milik Anda?
Langganan:
Komentar (Atom)
Keajaiban Cinta
Ku mencari cinta dalam cahaya kegelapaan...
Ku mencari cinta dalam cahaya yang menyilau terang
Sampai kapan ku mencari dan mencari?
Ku kehilangan
Ku sendirian
Ku hampa dan kosong
Saat itu kau datang...
Dalam taqdirku
Dalam keta`sengajan
Dalam rencana TUHAN
Yang begitu rumit dan indah
Sungguh...
Ini sebuah anugerah
Namun tetap
Ku takut kehilangan
Ku takut kau menghilang
Ku takut cinta ini pergi
Cinta adalah anugerah
Namun terkadang membawa kesengsaraan
Cinta adalah anugerah
Jadi ku mohon jangan kau sia-sia
Cinta dan cinta...
Lenyapkanlah
Kehilanganku
Kesendirianku
Kehampaanku
Kekosonganku
Semua karna cinta...
Ku mencari cinta dalam cahaya yang menyilau terang
Sampai kapan ku mencari dan mencari?
Ku kehilangan
Ku sendirian
Ku hampa dan kosong
Saat itu kau datang...
Dalam taqdirku
Dalam keta`sengajan
Dalam rencana TUHAN
Yang begitu rumit dan indah
Sungguh...
Ini sebuah anugerah
Namun tetap
Ku takut kehilangan
Ku takut kau menghilang
Ku takut cinta ini pergi
Cinta adalah anugerah
Namun terkadang membawa kesengsaraan
Cinta adalah anugerah
Jadi ku mohon jangan kau sia-sia
Cinta dan cinta...
Lenyapkanlah
Kehilanganku
Kesendirianku
Kehampaanku
Kekosonganku
Semua karna cinta...