Assalamu'alaikum, Wr, Wb

Greetings,

Sometimes i don't get it! your feelings get all muddled up, your focus is everywhere, your drawn away from what's in the now and your always confused. Logic and common sense don't come into play when your so caught up with your emotion about somebody. You hang out, talk constantly, tell each other stories, secrets and have deep and meaningful conservations with a particular person. It doesn't have to be a girl or boy, girlfriend or boyfriend, best friend or not so best friend your going to develop emotions about that person. Even if It's either genuine fun and enjoyment of friendship or pure love and happiness like I want to marry that person, you get caught up in your emotions!

I don't get it, for that moment when your emotions take over and all these symptoms of meddling with your life, what can you do about it? its only natural to feel that way, obviously there are chemicals in our body that contribute to these feelings or emotions but I feel its beyond that. Not something magical, but something real. Real as we might not see to the naked eye or even see it at all if its in our bodies, hidden and encapsulated. Blah that didn't make any sense.

Furthermore, when you start to fade away and stop hanging with that person. Then you only wish you could talk more and see each other more, when you know it can't happen because your 'too busy'. Then you start to crave for their attention and the constant updating seem to be all in the past. Like they don't care. What happens to your emotions now? I believe those symptoms go into hyper-drive.

Enough of that my point is.......

Well I found love. in Christ i did and my relationship with him. He's real, his death was real, his resurrection was real, and his return will be real. I know this event should be affecting me, its impact should feel so real and sometimes I doubt but i know i shouldn't. Maybe i genuinely don't get it, even though its so plainly explained, am I rejecting God? There isn't anything I can do physically or mentally to make sure that I will go to heaven with God but believe.

I believe in His love, a simple emotion that is real that I can give and receive. I hope i can firstly receive his love fully in my life so that I can give the love to others.

Until next time
Keep blogging or get into blogging

in Him, we live

Ibnu Abbas
Keep smiling =(

Selasa, 27 April 2010

Takahashi, 5 Menit Menuju ke Surga

Kuringgu… kuringgu …. kuringgu!!! (kring …kring …kring..). Suara telepon rumah Muhammad berbunyi nyaring.

Muhammad: Mosi mosi? (Hallo?)

Takahashi: Mosi mosi, Muhammad san imasuka ? (Apakah ada Muhammad?)

Muhammad: Haik, watashi ha Muhammad des. (Iya saya).

Takahashi: Watashi ha isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka? (Saya ingin belajar agama Islam, dapatkah Anda mengajarkan kepada saya?)

Muhammad: Hai, mochiron. (ya, sudah tentu.)

Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam.

Setelah beberapa bulan bersyahadat, Takahashi kian akrab dengan keluarga Muhammad. Dia mulai menghindari makanan haram menurut hukum Islam.

Memilih dengan hati-hati dan baik, mana yang boleh di makan dan mana yang tidak boleh dimakan merupakan kelebihannya. Terkadang tidak sedikit, keluarga Muhammad pun mendapatkan informasi makanan-makanan yang halal dan haram dari Takahashi.

“Pizza wo tabenaide kudasai. cheese ni ra-do wo mazeterukara.. (Jangan makan pizza walau pun itu adalah cheese, karena di dalamnya ada lard, lemak babi)”, nasihatnya di suatu hari. Takahashi mengetahui informasi semacam ini karena memang kebiasaan tidak membeli pizza, atau makanan produk warung di Jepang memang sudah terpelihara sebelumnya di keluarga Muhammad.

Toko kecil makanan halal milik keluarga Muhammad, menjadi tumpuan Takahashi dalam mendapatkan daging halal. Suatu ketika Takahashi ingin makan daging ayam kesukaannya, tapi dia ngeri kalau melihat daging ayam bulat (whole) mentah yang ada di plastik, dan tidak berani untuk memotongnya. Dengan senang hati, Muhammad memotong ayam itu untuk Takahashi. Dia potong bagian pahanya, sayapnya, dan badannya menjadi beberapa bagian.

Setiap pekan, Takahashi terkadang memesan sosis halal untuk lauk, bekal makan siang di kantor. Setiap pagi ibunya selalu menyediakan menu khusus (baca: halal) untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja. Sebagai ukuran muallaf Jepang yang dibesarkan di negeri Sakura, luar biasa kehati-hatian Takahashi dalam memilih makanan yang halal dan baik. Terkadang Muhammad harus belajar dari Takahashi tentang keimanan yang dia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Pernah dalam suatu percakapan tentang suasana kerja, Takahashi menggambarkan bagaimana terkadang sulitnya menjauhi budaya minuman sake di lingkungan tempat kerjanya. Di Jepang, suasana keakraban hubungan antara atasan dan bawahan atau teman bekerja memang ditunjukkan dengan saling memberikan minuman sake ke gelas masing-masing.

Dalam kondisi hidup ber-Islam yang sulit, Takahashi ternyata terus melakukan dakwah kepada ibunya. Beberapa bulan kemudian akhirnya ibunya pun menjadi muallaf dengan nama Qonita, nama pilihan Takahashi sendiri buat ibu yang dia cintainya. Sampai saat ini, bagaimana dia mendapatkan nama itu, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Takahashi.

Beberapa bulan berlalu, pertemuan kecil-kecilan berlangsung …terlontar dari mulutnya suatu kalimat.

“Watashi ha kekkon simasu (Saya mau menikah)….”, ujarnya.

Dengan proses yang panjang, akhirnya dia mendapatkan jodohnya, wanita Jepang yang cantik, yang dia Islamkan sebelumnya. Setahun kemudian, suatu hari Takahashi datang ke rumah Muhammad dengan istrinya yang berkerudung, ikut serta juga buah hati mereka yang telah hadir di dunia ini.

Pada suatu hari, iseng-iseng Muhammad bertanya kepada Takahashi, “Apa yang menyebabkan Takahashi lebih tertarik dengan Islam?”

“Sebenarnya saya belajar juga Kristen, Budha dan Todoku (Agama moral) selain Islam,” Takahashi menjelaskan.

“Masih ingat dengan telepon kita dulu? Waktu pertama kali aku telepon ke Muhammad beberapa bulan dulu”, sambungnya.

“Iya ingat sekali”, jawab Muhammad.

“Kita waktu itu membuat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat bukan?”, tanya Takahashi.

“Iya benar sekali”, sambung Muhammad lagi sambil mengingat-ingat kejadian saat itu.

“Saya sungguh ingin mantap dengan Islam, karena Muhammad datang 5 menit lebih dulu dari pada waktu yang kita janjikan, dan Muhammad datang terlebih dahulu dari pada aku. Muhammad pun menungguku waktu itu”, jawab Takahashi beruntun.

“Karena itu aku yakin, aku akan bersama dengan orang-orang yang akan memberikan kebaikan”, sambungnya lagi.

Jawaban Takahashi membuat Muhammad tertegun, Astaghfirullah sudah berapa kali menit-menitku terbuang percuma, gumam Muhammad.

Begitu besar makna waktu 5 menit saat itu untuk sebuah hidayah dari Allah SWT. Subhanallah, 5 menit selalu kita lalui dengan hal yang sama, akan tetapi 5 menit waktu itu sungguh sangat berharga sekali bagi Takahashi.

Bagaimana dengan 5 menit yang terlewat barusan, milik Anda?

Selasa, 30 Maret 2010

Pemecatan Tidak Adil di Tepi Barat Akibat Pelaksanaan Peta Jalan

Assalamu'alikum Wr. Wb
Ramallah – Infopalestina: Salah seorang pemimpin di otoritas Ramallah menegaskan bahwa pemecatan sewenang-wenang terhadap para guru dan imam masjid di Tepi Barat terjadi karena melaksanakan rencana "peta jalan".

Hal tersebut terungkap dalam laporan surat kabar Zionis "The Jerusalem Post" edisi Senin (29/3) yang membahas tentang kasus pemecatan secara sewenang-wenang oleh milisi Abbas di Tepi Barat terhadap para pejabat pemerintah yang menjadi anggota Gerakan Perlawanan Islam Hamas. Pemimpin di otoritas Ramallah ini mengatakan, "Kami telah memecat lebih dari seribu guru dan 300 imam masjid sebagai bentuk pelaksanaan dari klausul melawan "provokasi" di dalam rencana (peta jalan)."

Dia menambahkan, "Kadang-kadang kami harus mengusir guru dan imam masjid karena komitmen agamanya yang tinggi meskipun mereka tidak termasuk dalam Gerakan (Hamas)," mengutip peristiwa pepecatan seorang guru dari Beit Laqia di pinggiran Ramallah bernama Hudail Mufarija yang mengajar di sebuah sekolah di Beitunia. Dia mengatakan guru tersebut tidak berafiliasi pada gerakan Hamas, tapi dia sangat religius dan menghafal Alquran. "Mereka-mereka itu tidak kami inginkan ada di sekolah-sekolah kami," katanya.

Dia mengatakan, "Kami telah memutuskan untuk berperang melawan "provokasi"dan kegiatan politik di masjid-masjid dan sekolah-sekolah. Ini adalah bagian dari komitmen kami pada syarat-syarat dalam rencana (peta jalan)."

Dia menambahkan, "Banyak dari mereka yang diusir karena menolak mendukung gerakan Fatah dan Otoritas Palestina." Yang lainnya diusir karena mereka telah menjadi sangat religius dan dikhawatirkan pada suatu hari nanti mereka bergabung dengan gerakan (Hamas)!.

Surat kabar Israel ini mengutip dari seorang pejabat senior di Departemen Pendidikan di Ramallah yang mengatakan, "Kami bekerja atas perintah dinas keamanan. Kami tidak mempunyai pertanyaan apapun ketika datang perintah berkaitan dengan ke masalah keamanan."

Jerusalem Post menjelaskan peran penting yang dimainkan oleh "menteri" Wakaf di Ramallah, Mahmud Habash, dalam berbuat sewenang-wenang terhadap para imam masjid dari Hamas. Hal ini dipengaruhi oleh dendam karena masalah pribadi dengan Hamas yang memecatnya dari kementrian karena masalah moral dan keuangan.

Menurut Jerusalem Post , dialah yang melakukan pengawasan terhadap semua khutbah dan mengeluarkan instruksi yang ketat mengenai materi khutbah dan melarang “provokasi” di masjid-masjid. (dari berbagai sumber)

Menyingkap Sejarah Salahuddin Al-Ayyubi

Salahuddin dibesarkan sama seperti anak-anak orang Kurd biasa. Pendidikannya juga seperti orang lain, belajar ilmu-ilmu sains di samping seni peperangan dan mempertahankan diri. Tiada seorangpun yang menyangka sebelum ia menguasai Mesir dan menentang tentera Salib bahawa anak Kurd ini suatu hari nanti akan merampas kembali Palestin dan menjadi pembela akidah Islamiah yang hebat. Dan tiada siapa yang menyangka pencapaiannya demikian hebat sehingga menjadi contoh dan perangsang memerangi kekufuranhingga ke hari ini.

Walau bagaimanapun Allah telah mentakdirkannya untuk menjadi pemimpin besar pada zamannya dan Allah telah menyediakan dan memudahkan jalan-jalannya untuk menjadi pemimpin agung itu. Ketika ia menjadi tentera Al-Malik Nuruddin, sultan Aleppo, ia diperintahkan untuk pergi ke Mesir. Pada masa itu Mesir diperintah oleh sebuah kerajaan Syi'ah yang tidak bernaung di bawah khalifah. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis bahawa Salahuddin sangat berat dan memaksa diri untuk pergi ke Mesir bagaikan orang yang hendak di bawa ke tempat pembunuhan.

Perangai Salahuddin
Siapa yang rapat dengannya mengatakan ia adalah seorang Islam yang taat kepada Allah, sangat peka kepada keadilan, pemurah, lembut hati, sabar dan tekun. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah mencatatkan ia telah memberikan masa untuk rakyat dua kali seminggu, iaitu pada hari Isnin dan Selasa. Pada masa ini ia disertai oleh pembesar-pembesar negara, ulama dan kadi. Semua orang boleh berjumpa dengannya.
Ia sentiasa mengabaikan kesilapan-kesilapan pembantu-pembantu dan khadam-khadamnya. Jika mereka melakukan kesilapan yang memanaskan hatinya, ia tidak pernah menyebabkan kemarahannya menjatuhkan air muka mereka.

Salahuddin Sebagai Ulama
Salahuddin memiliki asas pengetahuan agama yang kukuh. Ia juga mengetahui setiap suku-suku kaum Arab dan adat-adat mereka. Bahkan ia mengetahui sifat-sifat kuda Arab walaupun ia sebenarnya orang Kurd. Ia sangat gemar mengumpulkan pengetahuan dan maklumat dari kawan-kawannya dan utusan-utusannya yang sentiasa berjalan dari satu penjuru ke satu penjuru negerinya. Di samping Qur'an ia juga banyak menghafal syair-syair Arab.
Salahuddin mempunyai pengetahuan yang dalam dan gemar untuk mendalami lagi bidang-bidang akidah, ilmu hadis serta sanad-sanad dan perawi-perawinya, syariah dan usul figh dan juga tafsir Qur'an.

Sejarah perjuangan Salahuddin al Ayubi
Ketika Salahuddin menguasai Mesir, ia tiba-tiba berubah. Ia yakin bahawa Allah telah mempertanggung jawabkan kepadanya satu tugas yang amat berat yang tak mungkin dapat dilaksanakan jika ia tidak bersungguh-sungguh. Bahauddin telah menuliskan dalam catatannya bahwa Salahuddin sebaik-baik sahaja ia menjadi pemerintah Mesir. Dunia dan kesenangannya telah lenyap dari pandangan matanya. Dengan hati yang rendah dan syukur kepada Allah ia telah menolak godaan-godaan dunia dan segala kesenangannya
Ia menumpukan seluruh tenaganya untuk satu tujuan
yaitu untuk membina kekuasaan Islam yang cukup kuat untuk menghalau orang kafir dari tanah air Islam.

Salahuddin pernah berkata, "Ketika Allah menganugerah kan aku bumi Mesir, aku yakin Dia juga bermaksud Palestin untukku. Ini menyebabkan ia memenangkan perjuangan Islam. Sehubungan dengan ia telah menyerahkan dirinya untuk jalan jihad.
Fikiran Salahuddin sentiasa tertumpu kepada jihad di jalan Allah.
semangat Salahuddin yang berkobar-kobar untuk berjihad menentang tentera Salib telah menyebabkan jihad menjadi tajuk perbincangan yang paling digemarinya. Ia sentiasa meluangkan seluruh tenaganya untuk memperkuat pasukan tenteranya, mencari mujahid-mujahid dan senjata untuk tujuan berjihad.

Sehubungan dengan ini ia lebih banyak di dalam khemah perang daripada duduk di istana bersama sanak keluarga. Siapa sahaja yang menggalakkannya berjihad akan mendapat kepercayaannya. Siapa sahaja yang memerhatikannya akan dapat melihat apabila ia telah memulakan jihat melawan tentera salib ia akan menumpahkan seluruh perhatiannya kepada persiapan perang dan menaikkan semangat tenteranya.

Dalam medan peperangan ia bagaikan seorang ibu yang garang kehilangan anak tunggal akibat dibunuh oleh tangan jahat. Ia akan bergerak dari satu hujung medan peperangan ke hujung yang lain untuk mengingatkan tenteranya supaya benar-benar berjihad di jalan Allah semata-mata. Ia juga akan pergi ke seluruh pelosok tanah air dengan mata yang berlinang mengajak manusia supaya bangkit membela Islam.

Satu siri peperangan yang sengit telah berlaku antara tentera Salahuddin dengan tentera Salib di kawasan Tiberias di kaki bukit Hittin. Akhirnya pada 24 Rabiul-Akhir, 583 H, tentera Salib telah kalah. Dalam peperangan ini Raja Kristian yang memerintah Palestin telah dapat di tawan beserta adiknya Reginald dari Chatillon.

Ramai juga tentera-tentera Salib berpangkat tinggi telah tertawan. Stanley Lane-Poole menceritakan bahwa dapat dilihat seorang tentera Islam telah membawa 30 orang tentera Kristian yang ditawannya sendiri diikat dengan tali khemah.
Dianggarkan 30,000 tentera Kristian telah mati dalam peperangan ini. Setahun selepas peperangan, timbunan tulang dapat dilihat memutih dari jauh.

Menawan Baitul Muqaddis
Kemenangan peperangan Hittin telah membuka jalan mudah kepada Salahuddin untuk menawan Baitul Muqaddis. Bahauddin telah mencatatkan bahawa Salahuddin sangat-sangat berhajat untuk menawan baitul Muqaddis. Pada hari jumaat, 27 Rajab, 583H, iaitu pada hari Isra' Mi'raj, Salahuddin telah memasuki banda suci tempat Rasulullah saw naik ke langit.

Ramai orang yang terdiri dari ulama, pembesar-pembesar, peniaga dan orang-orang biasa datang merayakan gembira kemenangan ini. Kemudiannya ramai lagi orang datang dari pantai dan hampir semua ulama-ulama dari Mesir dan Syria datang untuk mengucapkan tahniah kepada Salahuddin. Boleh dikatakan hampir semua pembesar-pembesar datang. Laungan "Allahhu Akbar" dan "Tiada tuhan melainkan Allah" telah memenuhi langit.

Selepas 90 tahun kini sembahyang Jumaat telah diadakan semula di Baitul
Muqaddid. Salib yang terpampang di 'Dome of Rock' telah diturunkan. Betapa hebatnya peristiwa ini tidak dapat digambarkan. Hanya Allah sahaja yang tahu betapa hebatnya hari itu.
Sifat penyayang dan belas kasihan Salahuddin semasa peperangan ini sangat jauh berbeda daripada kekejaman musuh Kristiannya. Ahli sejarah Kristian pun mengakui hal ini.

Tentera Kristian ketika menawan Baitul Muqaddis kali pertama pada tahun 1099. Telah tercatat dalam sejarah bahawa ketika Godfrey dan Tancred menunggang kuda di jalan-jalan Jerusalem jalan-jalan itu 'tersumbat' dengan mayat-mayat, orang-orang Islam yang tidak bersenjata disiksa, dibakar dan dipanah dari jarak dekat di atas bumbung dan menara rumah-rumah ibadah.

Perang Salib Ketiga
Perang Salib pertama ialah kejatuhan Palestin kepada orang-orang Kristian pada tahun 1099 (490H) manakala yang kedua telah dimenangi oleh Salahuddin dalam peperangan Hittin pada tahun 583H (1187M) di mana beberapa hari kemudian ia telah menawan Baitul Muqaddis tanpa perlawanan. Kekalahan tentera Kristian ini telah menggegarkan seluruh dunia Kristian. Maka bantuan dari Eropah telah dicurahkan ke bumi Palestin.

Hampir semua raja dan panglima perang dari dunia Kristian seperti Fredrick Barbossa raja Jerman, Richard The Lion raja England, Philips Augustus raja Perancis, Leopold dari Austria, Duke of Burgundy dan Count of Flanders telah bersekutu menyerang Salahuddin yang hanya dibantu oleh beberapa pembesar nya dan saudara maranya serta tentaranya untuk mempertahankan kehormatan Islam. Berkat pertolongan Allah mereka tidak dapat dikalahkan oleh tentera bersekutu yang besar itu.

Peperangan ini berlanjutan selama 5 tahun hingga menyebabkan kedua belah pihak menjadi lesu dan jemu. Akhirnya kedua belah pihak bersetuju untuk memuat perjanjian di Ramla pada tahun 588H. Perjanjian ini mengakui Salahuddin adalah pengusa Palestin seluruhnya kecuali bandar Acra diletakkan di bawah pemerintahan Kristian. Maka berakhirlah peperangan Salib ketiga.
Atas seruan Pope, seluruh dunia Kristian telah mengangkat senjata. Raja England, Perancis, Sicily dan Austria serta Duke of Burgundy, Count of Flanders dan beratus-ratus lagi pembesar-pembesar telah bersekutu membantu Raja dan Putra Mahkota Palestin untuk mengembalikan kerajaan Jerusalem kepada pemerintahan Kristian. Walau bagaimanapun ada raja yang mati dan ada yang balik dan sebahagian pembesar-pembesar Kristian telah terkubur di Tanah Suci itu, tetapi Tanah Suci itu masih di dalam tangan Salahuddin.

Bahkan dalam peperangan Arsuf, tenteranya dari Mosil (sebuah tempat di Iraq) telah menunjukkan ketangkasan yang hebat. Dalam peperangan ini, Salahuddin memang boleh memberikan kepercayaan kepada tentra-tenteranya dari Mesir, Mesopotamia, Syria, Kurds, Turkmans, tanah Arab dan bahkan orang-orang Islam dari mana-mana sahaja. Walaupun mereka berlainan bangsa dan kaum tetapi Salahuddin telah dapat menyatukan mereka di atas jalan Tuhan dari pada mula peperangan pada tahun 1187 hinggalah berakhirnya pada tahun 1192.

Dalam peperangan ini Salahuddin sentiasa syura. Ia mempunyai majlis syura (musyawarah) yang membuat keputusan-keputusan ketenteraan. Kadang-kadang majlis ini membatalkan keputusan Salahuddin sendiri. Dalam majlis ini tiada siapa yang mempunyai suara lebih berat tiada siapa yang lebih mempengaruhi fikiran Salahuddin. Semuanya sama sahaja. Dalam majlis itu ada adiknya, anak-anaknya, anak saudaranya, sahabat-sahabat lamanya, pembesar-pembesar tentera, kadi, bendahari dan setiausaha. Semuanya mempunyai sumbangan yang sama banyak dalam membuat keputusan. Pendeknya semuanya menyumbang dalam kepakaran masing-masing. Walau apa pun perbincangan dan perdebatan dalam majlis itu, mereka memberikan ketaatan mereka kepada Salahuddin.

Wafatnya Salahuddin
Pada hari Rabu, 27 Safar, 589H, pulanglah Salahuddin ke rahmatullah selepas berhempas pulas mengembalikan tanah air Islam pada usia 57 tahun. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis mengenai hari-hari terakhir Salahuddin. Pada malam 27 Safar, 12 hari selepas ia jatuh sakit, ia telah menjadi sangat lemah. Syeikh Abu Ja'afar seorang yang wara' telah diminta menemani Salahuddin di Istana supaya jika ia nazak, bacaan Qur'an dan syahadah boleh diperdengarkan kepadanya. Salahuddin tidak meninggalkan harta kecuali satu dinar dan 47 dirham ketika ia wafat, Bahkan harta yang ditinggalkannya tidak cukup untuk belanja pengkebumiannya. Keluarganya terpaksa meminjam wang untuk menanggung belanja pengkebumian ini. Bahkan kain kafan pun diberikan oleh seorang menterinya.
Salahuddin yang Wara'
Ia tidak pernah membayar zakat kerana ia tidak mempunyai harta yang cukup nisab. Ia sangat murah hati dan akan menyedekahkah apa yang ada padanya kepada fakir miskin dan kepada yang memerlukan hinggakan ketika wafatnya ia hanya memiliki 47 dirham wang perak dan satu dinar wang emas. Ia tidak meninggalkan harta.
Salahuddin sangat yakin dan percaya kepada pertolongan Allah. Ia biasa
meletakkan segala harapannya kepada Allah terutama ketika dalam kesusahan. Pada satu ketika ia berada di Jerusalem yang pada masa itu seolah-olah tidak dapat bertahan lagi dari pada kepungan tentera bersekutu Kristian. Walaupun keadaan sangat terdesak ia enggan untuk meninggalkan kota suci itu.

(VAMPS) Time Goes By

Do you remember that day?
And the time goes by
I am still alive now

konna sekai de
Aa, kudarana sa ni
tsuba wo hai temo, mada hashireru sa
Lighting up my engine getting started

memagurushii ki setsu wo hateru made kake yuku
kokoro no oku de sotto anata wo omoi nagara

Do you remember that day?
mabushikute me wo fusai de mo
zanzou ga nokori, jama suru no sa
Like a sudden drop that falls on my heart

osaete ita omoi ga shunkan ni afure dasu
arayuru keshiki ga ima anata de ume tsukusu

tomatta toki no mukou kawarazu mi tsume teru
boku no itami wo tsutsumikomu you na
sonna yawaraka na kimi ga suki datta

memagurushii ki setsu wo hateru made kake yuku
kokoro no oku de sotto anata wo omoi nagara

Keajaiban Cinta

Ku mencari cinta dalam cahaya kegelapaan...
Ku mencari cinta dalam cahaya yang menyilau terang
Sampai kapan ku mencari dan mencari?
Ku kehilangan
Ku sendirian
Ku hampa dan kosong

Saat itu kau datang...
Dalam taqdirku
Dalam keta`sengajan
Dalam rencana TUHAN
Yang begitu rumit dan indah

Sungguh...
Ini sebuah anugerah
Namun tetap
Ku takut kehilangan
Ku takut kau menghilang
Ku takut cinta ini pergi

Cinta adalah anugerah
Namun terkadang membawa kesengsaraan
Cinta adalah anugerah
Jadi ku mohon jangan kau sia-sia

Cinta dan cinta...
Lenyapkanlah
Kehilanganku
Kesendirianku
Kehampaanku
Kekosonganku
Semua karna cinta...